Overview Solar Potential: Apakah Indonesia Menuju Mandiri Energi?
Potensi Surya di Indonesia
Menganalisis potensi besar energi matahari sebagai kunci kemandirian energi nasional melalui pemanfaatan letak geografis Indonesia yang strategis.
Penulis: Sultan
Editor: Syafara Azahwa
Kebutuhan energi yang terus meningkat mendorong banyak negara mempercepat pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT), terutama tenaga surya. China menjadi contoh nyata dengan menguasai hampir sepertiga kapasitas surya global pada 2024 dan meningkatkan produksinya hingga 40% pada 2025. Sementara itu, Indonesia masih menghadapi kesenjangan pemanfaatan; meskipun memiliki potensi energi surya yang melimpah, pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) masih sangat minim dan belum mencerminkan kapasitas yang dimiliki. Kondisi ini menegaskan adanya gap antara potensi dan realisasi, sekaligus menjadi sorotan penting dalam upaya percepatan transisi energi nasional. Kebutuhan energi yang terus meningkat mendorong banyak negara mempercepat pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT).
Potensi Energi Surya Indonesia
Indonesia dengan letak geografisnya di asia tenggara sebenarnya sangat diuntungkan jika berbicara soal Solar Potential. Negara-negara Asia Tenggara secara geografis berada tepat di jalur khatulistiwa, wilayah yang menerima paparan radiasi sinar matahari (Global Horizontal Irradiation) dengan intensitas yang sangat tinggi. Data berikut menunjukkan negara-negara di kawasan asia tenggara yang memiliki solar potential yang cukup besar:
Dari data, Indonesia termasuk dalam 8 Negara Asia Tenggara yang punya Solar Potential yang sangat besar. Bahkan laporan studi dari Institute For Essesntial Sercives Reform (IESR) menunjukkan bahwa solar potential di Indonesia dapat mencapai bahkan melampaui 207 GW. Pertahun 2024, data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan solar potential di Indonesia telah mencapai sekitar 210 gigawatt-peak (GWp), meningkat dari 207,8 GWp pada tahun 2021
Bagaimana Langkah Pemanfaatan Potensi Energi Surya di Indonesia?
Pemanfaatan Energi Surya di Indonesia saat ini diakumulasi masih sekitar 0,1% dari potensi yang tersedia. Sangat jauh jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Hal ini tentunya dipengaruhi besar oleh seberapa banyak PLTS yang dimiliki untuk mengkonversi tenaga surya menjadi tenaga listrik. Jika mengacu pada data kementrian ESDM (ESDM dalam Tempo.co., 2026. Kapasitas PLTS Indonesia. data pada poster disamping, akses link: https://www.tempo.co/data/data/kapasitas-plts-indonesia-2112505. ), Kapasitas PLTS di Indonesia pertahun 2024 hanya sekitar 0,9% dari seluruh kapasitas PLTS Global.
Kenapa Solar Potential Perlu di MAKSIMALKAN?
- Konversi Sinar surya menjadi listrik tidak menghasilkan emisi CO2 sehingga pemanfaatan ini turut berkontribusi dalam Menjaga Iklim Global.
- Keunggulan Ekonomi dan Penghematan Biaya Listrik yang Signifikan. Biaya pokok penyediaan listrik (Levelized Cost of Electricity/LCOE) dari PLTS saat ini telah turun drastis dan terbukti lebih murah dibandingkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara. LCOE saat ini menyentuh harga 6 USD yang sebelumnya 25 USD per kWh.
- Pemerataan Akses Listrik dan Menggerakkan Ekonomi Pedesaan. Meskipun rasio elektrifikasi nasional tampak tinggi, kualitas dan keandalan pasokan listrik di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) serta Indonesia Timur masih sangat rendah dan berbiaya mahal.
- Menciptakan Ratusan Ribu Lapangan Kerja Hijau dan Mendorong Industri Lokal. Transisi besar-besaran menuju energi surya seperti visi ambisius program 100 GW diestimasi mampu menciptakan hingga 118.000 lapangan kerja hijau baru di seluruh rantai pasoknya.
- Mewujudkan Ketahanan dan Kemandirian Energi. Pemenuhan listrik di wilayah kepulauan saat ini sangat bergantung pada rantai pasok logistik bahan bakar fosil. Dengan energi surya, masyarakat di kepulauan dapat memanfaatkan sumber daya alam setempat yang tidak membutuhkan bahan bakar.
Kesimpulan
Potensi energi surya Indonesia adalah modal sumber daya alam paling rasional, andal, dan ekonomis untuk mewujudkan kemandirian energi dan melepaskan diri dari belenggu ketergantungan bahan bakar fosil yang mahal dan terbatas. Untuk mengubah visi besar menjadi kenyataan di lapangan, pemerintah dan pemangku kepentingan harus menyelaraskan regulasi yang lebih inklusif agar terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, mempercepat pembangunan rantai pasok manufaktur surya domestik, serta memperkuat skema yang relevan untuk daerah pelosok. Jika ini tercapai, Indonesia tidak hanya akan mencapai target kedaulatan energi sebagaimana Visi presiden, tetapi juga akan memicu pemerataan ekonomi dan keadilan energi di seluruh penjuru kepulauan Nusantara.
Keselarasan dengan alam juga akan semakin berimbang mengingat pemanfaatan solar energy termasuk dalam skema net zero emission. Ibarat Pepatah, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Sekali membangun, energinya dapat, kontribusi perbaikan iklim juga berlangsung.
