Mungil tapi Perkasa: Mengapa Mangrove Jadi Kunci Mitigasi Iklim? | Generasi Energi Bersih
Rabu Energi

Mungil tapi Perkasa: Mengapa Mangrove Jadi Kunci Mitigasi Iklim?

Blue Carbon dan Mitigasi Iklim

Sering dianggap sekadar pohon pesisir, padahal mangrove menyimpan karbon 3–5x lebih banyak dari hutan darat dan melindungi pantai dari abrasi. Kenapa ekosistem mungil ini justru jadi senjata perkasa melawan krisis iklim?

Penulis: Hana Yunus Putri Editor: Rosiana Agustin • 8 min baca • Oktober 2026
Hutan mangrove - thumbnail artikel

Foto Thumbnail / Cover: Hutan mangrove Indonesia — penyimpan blue carbon terbesar dunia.

Jadi bagaimana sih Mangrove dapat mengurangi emisi?

Tahukah kamu bahwa mangrove merupakan sistem alami yang paling efektif untuk menangkap dan menyimpan karbon, jenis karbon khusus yang dikenal sebagai “Blue Carbon” karena tersimpan di dalam ekosistem pesisir dan laut (Mathur dkk., 2026).

70–90%karbon tersimpan di ekosistem mangrove
4–5xlebih banyak serap karbon vs hutan darat
3–3,14 Miliar tonpotensi simpanan karbon mangrove Indonesia

Proses ini terjadi melalui fotosintesis dan sekuestrasi karbon. Ekosistem mangrove yang sehat menarik gas karbon dioksida dari atmosfer, lalu menguncinya dengan aman di dalam lumpur pasang surut selama ribuan tahun (Bincang Energi, 2021; Arifanti dkk., 2025).

Infografis Coastal Blue Carbon
Sumber: Sustainable Travel International. Blue Carbon

Ancaman Degradasi Ekosistem

Sayangnya, benteng pesisir ini berada dalam ancaman serius. Konversi lahan menjadi tambak intensif, kawasan industri, perluasan pemukiman, hingga pencemaran limbah telah merusak ekosistem vital ini.

Penelitian menunjukkan sekitar 20% hutan mangrove di Indonesia telah mengalami degradasi, yang berarti tidak lagi berfungsi optimal (Mathur dkk., 2026).

Degradasi sangat berbahaya karena karbon yang tersimpan terlepas kembali ke atmosfer, dan memicu pelepasan Metana (CH4) serta Dinitrogen Oksida (N2O) yang daya rusaknya berkali lipat lebih kuat dari CO2 (Arifanti dkk., 2025).

Intact vs Converted mangrove ecosystem
Sumber: Arifanti, V. B., et al., 2025, Assessing the Environmental and Socioeconomic Impacts of Mangrove Loss in Indonesia

Ambisi vs Realisasi: Di Mana Posisi Pemerintah Saat Ini?

Pemerintah Indonesia telah memasukkan strategi konservasi mangrove ke dalam komitmen iklim nasional (Paris Agreement / Enhanced NDC). Melalui Perpres No. 120 Tahun 2020, pemerintah menetapkan target ambisius merehabilitasi 600.000 hektar mangrove.

Namun realisasi di lapangan baru sekitar 130.000 hektar (21,6%) menurut data KLHK dan BRGM (Kompas, 2024). Kendalanya: keterbatasan anggaran, konflik kepemilikan lahan, serta kendala teknis penanaman.

130.000 ha / 600.000 ha — Gap 78,4% masih harus ditutup bersama.

Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Untuk menutup gap tersebut, diperlukan kolaborasi lintas sektor — terutama aksi nyata dari komunitas dan generasi muda.

What Do We Have To Do?

Untuk ikut memelihara dan melestarikan ekosistem mangrove, kita bisa mulai dengan aksi langsung seperti:

1. Rehabilitasi

Ikut turun langsung menanam kembali bibit mangrove di area pesisir yang rusak. Meski alam bisa pulih sendiri, bantuan kita bikin pemulihannya makin cepat! (Romañach dkk., 2018).

2. Coastal Cleanup

Sampah plastik yang melilit akar bisa bikin mangrove mati lemas karena tidak bisa bernapas. Bersih-bersih memberi ruang bagi bibit baru tumbuh subur (Suyadi & Manullang, 2020).

Hutan mangrove yang sehat bertindak sebagai sabuk hijau (green belt) — memecah gelombang ekstrem, meredam badai, mengurangi risiko tsunami dan banjir rob (Losada dkk., 2018).

Yuk, mari bersama mengambil peran aktif menjaga hutan mangrove supaya kita bisa mengurangi dampak krisis iklim dan melindungi kesejahteraan masyarakat pesisir!

Referensi

Losada et al. (2018)

The global value of mangroves for risk reduction. Nature Communications, 9(1), 4256. https://doi.org/10.1038/s41467-018-04565-9

Mathur et al. (2026) • Arifanti et al. (2025)

Mangrove Loss and Blue Carbon decline... Adarma Acitya, 2(1), 20-27. / Forest Science and Technology, 21(4), 430-446. https://doi.org/10.1080/21580103.2025.2536595

Romañach et al. (2018) • Suyadi & Manullang (2020)

Ocean & Coastal Management. / Marine Pollution Bulletin. https://doi.org/10.1016/j.marpolbul.2020.111718

Bincang Energi (2021) • Kompas (2024)

Mangrove sebagai penyeimbang... https://bincangenergi.id/... / Rehabilitasi Mangrove Baru Mencapai 130.000 Hektar dari Target 600.000 Hektar. https://www.kompas.id/artikel/...